Hari ini adalah hari sialku, aku tidak menyangka jika hari ini rambutku akan dipotong oleh guru. Tapi, yang membuatku benar-benar kesal bukan hanya karena rambutku dipotong, melainkan karena teman-teman yang berambut gondrong sepertiku tidak ikut dipotong. Begini ceritanya, tadi pagi saat setelah jam pelajaran ada razia mendadak. Guru-guru datang dengan membawa gunting. Kami para murid pun menjadi panik. Aku merasa tenang-tenang saja, karena ada yang memiliki rambut lebih panjang dariku tapi tidak dipotong. Pak guru menghampiri temanku yang duduk di bangku paling depan. “Rapikan rambutmu, nanti saya potong”, kata Pak  guru. “iya pak, besok saya potong”,  ujar temanku ketakutan. Kemudian Pak guru mendatangi temanku yang lain. Pak guru kembali mengulangi perkataannya “Rapikan rambutmu, nanti saya potong”. Iya pak, nanti saya rapikan“,  kata temanku. Kali ini Pak  Guru datang menghampiriku. “Rapikan rambutmu, nanti saya potong ”. “Iya pak”, lalu saya menyisir rambut menggunakan jari dengan maksud merapikan rambut saya yang berantakan. Tak disangka-sangka Pak Guru langsung memotong rambut saya. Saya pun bingung. Setelah razia selesai, saya menanyakan hal ini ke teman saya. “Kenapa rambutku dipotong sementara kalian tidak ?”. “Oh iya, soalnya kamu merapikan rambutmu”. Mendengar hal itu aku pun menangis tersedu-sedu  menyesali perbuatanku.
*Humor tingkat tinggi